"Luka ini tidak akan membunuhku, luka ini untuk mengubah
arah laju sikap ku.Kecintaan pada sanjungan yang akan membunuhku,
setidaknya begitu. Luka ini adalah kesucian jiwaku, tangisan lara yang
menetes sungguh akan menghapus dosaku. Betapa ku yakin, karena Alloh
yang akan menjadi saksi.Hingga kini takut itu masih mengarah pada Nya,
setidaknya rasa ini masih kutunjukan untuk meraih ridhoNya. Langkahku
masih mengingat akan keputusanNya. Luka ini adalah keganasan keramaian,
dan hanya diam untuk mengobatinya. Diam ku adalah intropeksi, diam ku
muhasabah diri, diam ku adalah mengambil jarak untuk berurusan
bersamanya. Langkah ini telah ku pastikan, jika diam adalah hal terbaik
untuk menyelamatkan jiwaku.Bicaraku adalah tanda cinta, dan diamku yang
berkepanjangan tak ubahnya tanda diri terluka. Sebelumnya aku telah
memohon ampun atas diam ini, jika diam ini membuatku seperti makhluk
berpatung, diam ini akan menjauhkan dari keakraban yang pernah
terjalin.Ku katakan sekali lagi, bicaraku yang berkicau adalah tanda
cinta, dan diam berkepanjanganku adalah tanda luka.Bersama ini, ku
jelaskan bahwa aku terluka, dan tak ingin lagi berkicau denganmu, dengan
keadaan ini. Tak sedikitpun untuk ku menuntut kau mengerti, sebab
aku juga tidak ingin mengerti mengapa kau melukaiku. Impas.
Betapun, aku telah kembali berbicara, sungguh rasa cinta seperti yang
semula tidak sanggup untuk ku kicaukan lagi. Sebab aku telah terluka.
Kisah
ini tentang luka.Biarlah. Sebab aku telah mengatakan semua ini pada
Tuhan Sang Pencipta. Biarpun, tangisan yang sejatinya untuk menangisi
dosa menjadi tangis untuk rasa luka ini. Biarlah, sebab aku sudah
memohon ampun pada Tuhan Sang Penguasa, aku hanya manusia biasa.
Tangisku tak mampu ku simpan, tangisku menjadi tanda kepedihan untuk
segores luka.Akhir harapan ini adalah tangis ini mampu menghapus
sebagaian dosa-dosaku.
Luka ini sepenuhnya bukAn
salahmu, setidaknya begitu, dan aku menyadari hal itu. Luka ini karena
ketidakmampuank mengendalikan diri, luka ini karena ketidakpandaianku mengolah perasaanku
sendiri. Seperti telah ku akui, aku hanya manusia yang juga adakalanya
telah melukai, tapi karna sifatku ingin menang sendiri aku tak ingin di
lukai. Setidaknya tidak dengan sekejam ini. Atau mungkin aku yang terlalu
kejam menilai luka ini??.Ahh tidak, sebab aku pada dasarnya sudah sering
terluka, dan keseringan terluka ini belum juga membuat jiwa ini membatu
dengan luka. Tidak, bukan maksud aku ingin jiwa ini mati rasa oleh
luka, sebab di situlah denyut jantung rasa malu untuk menaungi jiwa
imanku.
Sementara aku akan mengobati luka ini dengan
diam membisu, dan tak berharap orang lain mengerti tentang diriku.
Kesendirianku untuk memohon ampun pada Tuhanku, menjauh dari
tangan-tangan penyanyat luka ku. Mereka bersamaku, tapi jiwa ini menjauh
darinya. Kicau ini akan menyepikan suasana jalinan ini, biarlah. Sebab
dengan sendiri, sepi akan terbiasa mengeringkan luka dan mata ini karena
tangisan yang menyayat hati"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar