Lingkaran Itu tak Bersudut

Kamis, 28 November 2013

Bukan berarti ini tidak setia

Sesaat dan untuk saat ini aku ingin berhenti sejenak. Berhentiku bukan karena aku  putus asa. Tapi untuk mengambil ancang-ancang untuk langkah dan lari berikutnya. Berhentiku bisa banyak orang artikan sebagai bentuk sifat pembosan. Memang benar, aku pembosan. Karena aku suka warna yang tidak hanya hitam atau putih. Aku pecinta sejati pelangi. Aku tak peduli, karena bagiku aku hidup bertanggung jawab pada diriku, Tuhanku dan sosialku bukan bertanggung jawab terhadap penilian orang yang tidak menyukaiku. Atau mungkin idealis yang tak lebih sifat egois diri sendiri. Dan sungguh, aku terusik karena memang sifat idealisku belum sempurnanya mati, ia tak lebih hanya tidur panjang dan sepertinya kini ia perlahan mulia siuman. Dan aku tak bisa mengelak tentang hal itu, kini yang kurasakan tenaga idealis itu semakin membesar sebelum dulu pernah ku tidur panjangkan. Itulah hal yang membedakan makna bagaimana mencintai pelangi dengan kesetian pada satu warna kehidupan. Ini bukan perkara kesetian pada satu warna dengan idealis mencintai sejati warna pelangi, ini perkara hati yang tak bisa di usik dengan setia atau tidak setia.
Kemarilah kawan, temani aku untuk menata tempat tidur untuk istirahatku.Merebahkan tubuh ini, memejamkan mata kemudian merindu untuk segera bertemu dengan pelangi.

Inilah kita

Ok, manusia diciptakan dengan titik kemulian yang terletak pada perjuangan pembenahan kesalahan yang tak pernah luput dari kehidupanya. Karena manusia sendiri tidak ada yang sempurna dengan tidak pernah berbuat salah dan dosa. Namun sekejam apakah ketika kita berlagak sok menjadi hakim untuk menghakimi kesalahan orang lain? Bahkan melupakan kebaikan-kebaikan orang itu lantaran kita ingin merasa tampil paling benar selama ini. Terlalu sadis, ketika menganggap bahwa kesalahannya adalah hal yang terburuk dan menjijikan. Hingga terlalu egois, ketika kita mempunnyai akal dan naluri kita tanpa mau tahu sebab apa kesalahan itu terjadi. Sengaja atau tidak sengaja?. Kenapa dia bisa berbuat seperti itu?. Sampai pada kita tidak tahu (karena tidak mau tahu), Tuhan sudah mengampuni kesalahanya atau belum. Sedang kita masih berdiri tegak dengan menyombongkan diri "lihatlah, dia yang melakukan kesalahan ini dan itu, sedang aku kan tidak. Kalau aku........". Jadi, tolonglah, bukanlah kapasitas kita menjadi "hakim" di setiap kesalahan dan dosa orang lain, karena bagaimanapun kita tahu bahwa Hakim yang Maha Agung adalah Tuhan yang selama ini kita mintai pertolongan dan kita sembah.Jika pun kapasitas kita menjadi hakim, tentu itu sebatas karena tuntunan profesi atau tugas amanah yang telah disumpah. Sejauh ini kapasitas kita apa? tak lebih dan tak jarang kapasitas kita  hanya makhluk yang tengah panik karena tengah mencari sebuah pengakuan, bahwa" aku ini orang yang baik, karena aku tahu kesalahan orang lain". Lihatlah!, sebijak itu kah kita.
Baiklah, manusia memang cenderung tidak mau disalahkan meski sebenarnya dia juga merasa bersalah. Dan inilah yang sering membuat diri kita lupa, tujuan hidup kita. Manusia yang mudah menyalahkan orang lain tak ubahnya juga seperti orang yang tengah mencari pengakuan dirinya bahwa dirinya orang baik. Manusia yang tidak mau disalahkan sekiranya memang ia tidak mau dianggap buruk di hadapan manusia lainya. Segalanya akan lebih berarti, ketika kita menganggap bahwa diri kita hanyalah manusia nista, karena yang mulia hanya Alloh SWT, Tuhan kita. Apa yang salah dengan kejamnya kehidupan, adalah ketika kita menganggap bahwa diri kita mulia dan tak patut merasa terhina.
Jiwa kita begitu rapuh, sangat rapuh akan cacian,hinaan dan pengkhianatan. Itu bisa dimengerti, karena di antara kita tidak ada yang mau merasa menjadi hina. Jiwa kita mudah bergejolak dengan nafas kehidupan, jiwa kita mudah berguncang dengan senggolan. Jiwa kita terlalu rapuh, namun ia akan mampu kuat ketika kita mengantungkan pada yang Maha Kuat.
Hahh, (menarik nafas). Jiwa kita tak akan pernah berhenti merespon setiap percikan air kehidupan, entah itu air jernih, air kotor, air comberan. Karena jiwa kita hidup. Namun ketika kita menjadi kuat maka kita mudah memaafkan atas kesalahan orang lain. Itu jika kita dipihak merasa didzolimi.Namun bagaimana jika kita selama ini ternyata bagian orang2 yang suka mencari kesalahan orang lain? ahhh semoga Alloh memberi pemahaman pada diri kita sendiri, sejauh mana kita melangkah pada kehidupan ini, bagaiamana kita, apa yang telah kita lakukan selama ini, seperti apa sebenarnya perilaku dan sikap kita pada orang lain, dan tentunya seburuk dan seperti apa sebenarnya dosa dan kesalahan kita selama ini. Jika kita telah tahu bahwa tidak ada manusia yang tidak pernah berbuat salah dan dosa, maka perlukah kita menambah dosa dengan membicarakan aib dosa orang lain karena ada rasa benci dan iri?. Karena tak bisa dipungkiri, kita bagian dari makhluk yang bernama manusia yang seluruh seisi alam semesta selalu membicarakan tingkah makhluk berakal ini.Makhluk yang memiliki banyak kecenderungan untuk selalu merasa menang, meski itu sekedar urusan salah dan dipersalahkan.

Selasa, 25 Juni 2013

Pesona

Aku terpesona. Hatiku telah luluh lantak menghamba pada cintamu.
 dengan pandangan matamu yang menatap seperti elang yang menajaga pucuk pohon puspa.Leburlah seluruh bongkahan jiwaku, menyatu dengan titik pucuk cinta dan rindu.Sehingga yang kau lihat sekarang adalah garis pelangi yang selalu melingkari senyumku untukmu. Seperti yang telah kau rasakan, cintaku telah menghangatkan jiwa dinginmu, menyemai benih yang kini telah tumbuh pohon rindang untuk memayungi rasa panasmu. Aku menjelma seperti oksigen untukmu sebab cintaku adalah pernafasan kehidupan itu sendiri. Untuk yang kesian kali aku mengatakan padamu, aku telah jatuh  cinta padamu, dari tatapan matamu hingga bagaimana kau memperlakukan aku. Cukup untuk ku mengerti, bahwa cinta itu suci dan kesucian itu aku pasarkah pada Ilahi pemilik hidupku sesungguhnya.
Dari sini, kita setidaknya telah mengerti dan memahami. Mari melangkah dengan cinta yang masih kita miliki, melangkah untuk mengarungi kehidupan ini dengan sebaik-baiknya. Aamin
Rasa itu semakin kuat. Entah sekedar rasa emosi atau karena luapan yang telah lama ku bendung. Ya Alloh, berilah petunjukMu......please!!!!

Dengan suara berbisik kau mengatakan kepadaku
     "Tunjuk satu bintang,

Selasa, 04 Juni 2013

Deretan restoran di kota tua menunggu untuk di pilih. Aroma yang menggoda menyebar memenuhi udara senja itu.Asap yang mengepul dari celah jendela seolah memberi tanda kehangatan. Udara yang mulai terasa dingin, meski malam masih jauh dari jarak waktu

Jumat, 31 Mei 2013

Untuk sekian lagi, merindu

Membuka perjamuan.
Sepiring perhatianmu dengan ditaburi senyum tulusmu. Segelas air kesabaranmu bercampur aduk dengan manisnya rayuanmu  menjaga sepiring jamuan tiap waktu.Jamuan itu selalu terhidang untukku, tiap aku merasa lapar dan haus untuk urusan kehidupan.Hidangan jamuan penutup adalah canda tawamu, yang renyah dan mudah lumer di mulut. Sensasi itu yang semakin membuatku semakin merindu.
Saat lain waktu, saat ini. Perjamuan itu terkalahkan oleh jarak. Tak dapat ku sentuh, hanya dapat kubayangkan.Membayangkan. Ya,karena dengan cara itu aku mampu bertahan oleh serbuan rinduku padamu.Benteng yang rapuh, bisa jadi begitu. Tapi setidaknya itu mampu membetengi kerapuhanku tanpamu.
Segeralah datang!, untuk membuka kembali perjamuan yang terasa bagiku lama tak melayaniku.  Meski hitungan itu baru dua malam,sedang engkau tahu hitunganku adalah beribu lipat waktu.
Di rumah ini.Tidak ada kisah, selain menunggu dan rindu.Membosankan. Tidak hanya aku.Cicak yang merabat di dinding terlihat sudah jenuh.Nyamuk terdengar mengerutu.Tikus mengumpat. Kecoa cemberut.Semut tak lagi berbaris rapi.Apalagi? Tokek. Ya binatang itu telah membisu sejak malam tadi.
Rumah yang membisu, dan aku terpenjara di dalamnya dengan perjamuan yang tak mampu membuatku kenyang.
***pipi bersemu merah***