Lingkaran Itu tak Bersudut

Rabu, 23 Januari 2013

Do'a


        Ya Alloh.... Sunguh aku mengakui segala dosa khilaf ku
Segela keburukan yang pernah ku lakukan. Dan segala bentuk kehinaan yang membuat aku terpuruk dalam ketidakberdayaan untuk beribadah sebaik-baiknya kepada Mu.
     Ya Alloh.....Sungguh aku merasa lelah dan takut. Dan aku sadar bahwa rasa lelah, takut, letih kepayahan ini adalah bentuk kesalahan ku sendiri, akibat dosa-dosa yang aku perbuat. Dan untuk sekian kalinya aku menyadari ini bukan tindakan pembalasan dari Mu, ini adalah hukum kehidupan yang telah Kau tetapkan.
     Ya Alloh.....aku mengakui dan tak bisa membayangkan bagaimana jika Engkau langsung turun tangan dan menghukumku, atas dosa-dosa yang telah kulakukan ini, atas kehinaan yang ku torehkan ini.
     Ya Alloh.......Ampunilah hamba. Sudilah kiranya Engkau bukakan pintu ampunan seleber-lebarnya, Engkau bentangkan seluas-luasnya. Engaku tancapkan sedalam-dalamnya. Engkau datangkan sedekat-dekatnya.
        Ya Alloh.......hamba memohon kepadaMu. Mohon. Mohon.Memohon dengan sangat, sangat,sangat....
       Ya Alloh.......bersama ini hamba ingin menyampaikan banyak harapan dan keinginan. Sebelumnya, hamba memohon ampun bila dalam siratan harapan dan keinginan hamba membuat Engkau menetapkan dosa atas doa ini.Atas nama Mu Ya Alloh, hamba memulai.....
       Ya Alloh.....lapangkanlah rizky. Karunia. Barokah. Rahmat dan Anugerah dari Mu. Ya Alloh murahkanlah, semurah-murahnya, mudahkanlah semudah-mudahnya, kuatkanlah sekuat-kuatnya, lapangkanlah selapang-lapangnya untuk kehidupan rumah tangga kami kedepanya, untuk ibadah kami kedepanya, untuk kesejahteraan lahir dan batin kami kedepanya.
           Ya Alloh......sudilah kiranya Engkau berikan kepada kami. Semua itu untuk memenuhi kewajiban kami. Untuk bisa memenuhi kebutuhan kami sendiri. Untuk bisa mewaranai amal kami pada perintah sedekah, zakat dan infak. Dan sungguh dengan rizky, karunia, barokah,rahmat dan anugerah Mu kami ingin pergi ke tanah suci Makkah, bersama orang tua kami, bersama banyak saudara kami, tidak sekedar kami sendiri.
         Ya Alloh....apalah sulit bagiMu, namun hamba tahu Engkau Maha Tahu untuk kebaikan kami dan hamba yakin Engkau telah menyiapkan rencana yang lebih indah ketimbang bayangan kenikmataan yang ingin hamba raih. Ya Alloh, hamba mohon ampun dan hamba titip keinginan dan harapan ini pada Mu.semoga Engkau berkenan mengubah keinginan dan harapan itu menjadi kenyataan
             Ya Alloh, hamba selipkan doa keinginan hamba untuk Negeri ini. Semoga Engkau berkenan memberikan ampunan dan pertolongan pada kami rakyat Indonesia...
                             Ya Alloh, tolong lah kami, tolong-lah, tolong kami.......amin.....

Jumat, 18 Januari 2013

Bahagia itu bagaimana, bukan karena...

Menurut saya, kebahagian  waktu itu adalah diberi sebanyak-banyaknya nikmat, sebanyak-banyaknya anugerah, sebanyak-banyaknya karunia, sebanyak-banyaknya rizky, dan pokoknya sebanyak-banyaknya dari Alloh. Pada waktu itu, waktu ketika fikiran begitu sempit karena terhimpit.
Dan apa jadinya fikiran tentang bahagia pada waktu sekarang? ternyata berubah. Saya berfikir, bahwa bahagia itu adalah banyak memberi, dan pemberian itu bermanfaat bagi orang sebanyak-banyaknya.
Hatinya memberi peringatan tentang pelajaran arti bahagia.
Kebahagian sepertinya adalah sebuah cara pandang, ia akan berubah-ubah sesuai dengan cara pandang kita waktu itu. Kebahagian bukanlah suatu yang bersifat tetap, karena kita sendiri tidaklah hidup dengan "tetap". kita terus maju, dan posisi kita terus melaju.
Banyak pendapat orang berbeda untuk mengartikan kebahagian itu.Dan akan semakin berbeda ketika waktu berlalu, ketika kita terus melangkah maju.
Jika banyak yang menetapkan tujuan hidup untuk bahagia, maka sesungguhnya ia tengah memutar sendiri di sebuah lingkaran, terus bergerak, terus melangkah tapi tidak menemukan titik tujuan.

Bahagia berbeda dengan tawa, meski tawa adalah bagian dari bahagia. Arti bahagia sendiri adalalah diri kita sendiri dalam menyikapi, sepertinya itu adalah kunci dari arti bahagia.
Bahagia dengan keluarga
Bahagia dengan harta
Bahagia dengan tahta
Bahagia bukan semata karena, tapi bagaimana kita menjadikanya hidangan bahagia. Kita sudah rapuh, dan akan semakin rapuh jika kita mengantungkan karena pada yang rapuh.
karena keluarga, bisa jadi ia membuat kecewa.
karena harta, bisa jadi ia membuat kita hina
karena tahta, bisa jadi ia membuat kita semena-mena.

Bahagia sejatinya adalah bagaimana kita menyikapinya, dan sebaik-baik kita menyikapi adalah berdasar pada hati nurani yang mengikuti jalan Ilahi.
Bahagia ini bukan untuk kita diri sendiri, kita bahagia untuk banyak orang dan membawa kita tidak pada kerakusan bahagia. karena bahagia sejatinya akan semakin mekar jika dibagi, akan semakin mewangi jika di kasihi..bahagia...bahagia..bahagialah karena memberi bukan diberi :-)



Tengadah untuk Memohon, untuk kita, untuk romantisme ini

          Aku mengeluh waktu itu, kau terdiam dan aku tidak menyukai itu. Sesungguhnya aku tahu, diam mu adalah nyanyian derita yang lebih pedih ketimbang derita yang sesungguhnya. Tentu, aku mengeluh tentang derita yang tengah melanda kita.Tak cuma mengeluh, aku sering meraung menangis pilu, tak lebih itu semua hanyalah sebuah tindakan meratapi nasib pilu.Meratapi sesuatu dengan hanya duduk bertopang dagu.
       
         Malam yang dingin, saat selimut tak mampu menghatkan tubuhku. Ketika perapian telah kehabisan kayu yang tak mampu terbeli.Ketika perut berontak, meminta hak makanan untuk digilingnya.
Aku menghujat. Ya, hujatanku, menyentak jiwamu. Melonjakan emosi amarahmu. Saat itu, tampak jelas sekali kau berusaha sekuat tenaga meredam emosimu, agar tidak membuncah, membanjiri keadaan. Siratan lain kau memberi bahasa qalbumu, bahwa kau begitu khawatir jika aku yang tekena banjir luapan emosimu. Sama sekali kau tidak memperdulikan  dirimu, kau khawatir jika luapan itu akan berakibat buruk padaku. Menerjangku, menghantamku dan akhirnya melukaiku. Dan rasa sakit lukaku itu tentu saja kau akan turut merasakan sakit.Bahkan kau akan merasa lebih sangat, sangat sakit ketimbang aku. Sakitmu, rasa penyesalanmu, rasa bersalahmu menjadi sakit yang teramat bagimu. Hingga kau menyimpan semua itu dalam kotak diam emasmu, kau menyimpannya sangat rapat, setidaknya berusaha sangat rapat.
          Derita itu sesungguhnya adalah kebodohan kita sendiri. Kita yang mengali lubang, dan kita sendiri yang menjatuhkan tubuh kita kedalamnya, kita berusaha untuk naik, keluar dari lubang itu. Namun tatkala kita sudah keluar, kita kembali lagi mengali lubang dan kita kembali menjatuhkan tubuh kita kedalamnya. Kita keletihan sendiri, kelelahan, kepayahan dan sungguh kita sangat merugi segala energi.

Kau mengatakan kepadaku, bahwa anggap ini adalah pelajaran ilmu untuk kedepanya, agar kita bisa tahu lebih banyak tentang tikungan-tikungan jalan kehidupan ini.Aku mengangguk setuju, menetapkan hati bahwa semua ini adalah ujian bagi kita.
Ketika kita bersama, duduk saling bersandar bahu kau menjeleskan pertanyaan ku tentang kehidupan ini. Ingin aku catat, namun aku terlalu malas untuk beranjak dari pangkuanmu sekedar untuk mengambil alat tulis. Aku mengingatnya, sedemikian erat ku simpan. 

Sayang, aku pernah mengatakan hal tentang perasaan sepit saat itu, dan kau mengatakan anggap saja itu arti dari sebuah keramaian yang pernah kau rasakan. Bukankah ramai  tidak lagi berarti, jika sepi tidak ada kawan untuk lawan berbagi.
Sayang, aku menderita sakit waktu itu, dan kau mengatakan anggap saja itu arti dari sebuah bahagia yang pernah kau rasakan. Bukankah bahagia tidak lagi berarti, jika sakit derita tak pernah kau alami.

Kau mengajariku tentang hal itu, dan aku baru paham ketika aku pernah merasakan dan mau mengerti hikmah akhir dari semua itu.
Lelahku, sakitku,sepiku menjadi sesuatu yang patut aku kenang, untuk menemani rasa syukurku, untuk menjaga rasa syukurku, untuk mengingatkan rasa syukurku. Saat ini,  sampai nanti.

Aku memelukmu, dan kau menenangkanku.
Setelah aku merasakan kehangatanmu, kau menasehatiku.
Aku merasa bahagia dan kau merasa puas dengan hal itu.
Seolah bagimu, melihat kebahagianku adalah kepuasaan tersendiri bagi bagian hidupmu.
Membahagianku seperti menjadi bagian tujuan ibadah hidupmu.
Dan entah karena sebab aku baik hati, atau karena kasihan kepadamu.
Aku seolah tak ingin menangis lagi, setidaknya itu di hadapanmu.
Karena sepertinya hanya dengan itu aku membahagiakanmu.

  Wahai manusia yang memiliki jakun di tenggorakanmu, aku menghargai caramu mencintaiku. Dan aku mengatakan terima kasih untuk hal itu. Semoga Alloh membalas kebaikan cintamu. Dan setidaknya aku ingin membalas cinta mu dengan bakti pengabdianku.
Teruslah kita mencari, jalan dimana Alloh meridhoi. Kita telah berjanji, dan kita harus menepati.....

L pada B




       

Minggu, 24 Juni 2012

Tahta Alam

Tempias hujan membasahi semayam tahta yang selalu bercerita tentang kering kerontang. Api tak membara jika sang bahan bakarnya hanya ranting basah. Cerita itu telah disampaikan alam melalui waktu yang tertinggal ke belakang.Berbagai pertanyaan mereka lemparkan pada tahta alam. Hingga mengalirlah berbagai jawaban itu.
Jawaban angin berhembus n, jawaban tanaman di padang rumput

Senin, 18 Juni 2012

Ketetapan

Tatkala aku bermain dengan malam, siang memanggil panasnya matahari. Seruas jalan yang membentangkan ke alpaan dimensi terkuak dalam tajamnya kerikil yang tertanam. Selayang pandang yang lepas karena terurainya benang emas menjadikan mata silau karena cahaya yang tanpa tersaring selaput. Hancurnya tidak berkeping lagi. Bagian yang terkeping telah luluh lantak tidak berwujud lagi. Sisa akhir  hanya debu yang menggigit pori-pori, merasuk dalam jaringan kulit dan hal itu yang membuat banyak manusia mengeluhkan akibat dari padanya.
Malam tak akan pernah berhasil memanggil matahari, meski menyerangnya dengan rayuan mati, pisau belati untuk membuktikan bunuh diri. Malam sungguh tak akan pernah bisa mengusir gelap, meski malam meminta dengan sangat, meski malam terus menangis tersiksa dalam gelap. Malam tak akan pernah bisa membawa terang, meski bulan purnama di sajikan hingga tujuh titik bagian bumi.
Siang, aku bermain dengan terik matahari, dengan deru yang bercampur debu, dengan keringat yang bercampur letih yang teramat. Tapak kaki di atas pasir, seperti menyisakan arang yang terbakar api. Siang terlalu kasar untuk bisa bersaing dengan sore. dan siang tak akan pernah bisa berlaku lemah lembut. Maka pada senjalah aku selalu melabuhkan letihnya diri, menyemamkan sebongkah hati yang kerja hingga titik mati.
Seperti udara, ia tidak memihak pada siapapun. Malam tetaplah ia gelap, meski bulan ikut menjaga. Begitupun siang, ia tetaplah terik, meski matahari terlelap oleh awan mendung.

Ketetapan telah menjelaskan, bahwa siang dan malam adalah cerita pergantian.Bukan semata maksud gelap dan terang, tapi jauh lebih dari itu. Ketetapan ini telah mengajarkan bahwa hidup adalah cerita yang terus di selingi dengan pergantian.

Senin, 04 Juni 2012

Basa-basi

Dalam etika berbicara, kita tidak diajarkan secara formalitas tentang gaya berbasa-basi. Namun secara formalitas pula, manusia menggunakanya dengan berbagai cara dan gaya. Berbasa-basi memang bukanlah kesalahan yang melanggar etika berbicara. Hanya kadang kala berbasa-basi membutuhkan tuntutan untuk berbijaksana dalam penggunaanya. Tidak ada larangan secara hukum untuk berbicara dengan berbasa-basi, namun ada pelanggaran secara moral untuk basa-basi tanpa ada kebijaksanaan si penggunanya. Jadi bagi para pencinta berbicara dengan basa-basi, silakan mengingat apakah sudah mengunakan kebijaksaan dalam permusyawaratan perwakilan dalam berbicara antar sesama.Sekiranya, kita memaknai basa-basi dengan suatu maksud yang bertele-tele misalnya, atau barangkali, kita memaknai basa-basi dengan suatu maksud berbicara tanpa memiliki makna yang mendelam.
Jangan sampai, basa-basi kita sekedar busa yang sekedar menyemarakan keadaan tanpa memiliki arti untuk pembicaraan yang telah memakan banyak waktu. Sedang kita tahu,ada banyak kepentingan setiap manusia. Jadi jangan sampai kita "memaksa" secara halus mereka mau mendengerkan basa-basi kita, dan menyebabkan mereka kehilangan waktu yang mereka anggap begitu berharga. Jadi, mengertilah.
Apa yang sebenarnya yang membuat kita tampak bodoh di hadapan orang lain?. jawabanya tak lain karena kita ragu :-). Percaya atau tidak itu urusan anda